19 Maret 2017 01:42:44
Ditulis oleh Admin

Antara Klenik dan Sepakbola

Anda tentu masih ingat ketika gelaran pesta olahraga Asia Tenggara atau Sea Games 2011 pada cabang Sepakbola, ketika Timnas Sepakbola Indonesia melakukan pertandingan dan mendapat sebuah tendangan pojok satu pemain akan memasuki gawang lawan dan menggoyang-goyang jaring gawang lawan. Ya ketika itu Titus Bonai begitu bersemangat melakukan hal ini, entah dengan maksud apa tapi yang jelas dengan melakukan hal itu dia percaya bahwa dengan menggoyang-goyang jaring gawang “Setan” penunggu gawang lawan akan pergi dan gawang lawan akan mudah di bobol. Tidak salah, tidak juga 100% benar, buktinya dengan “pengusiran setan” ala Tibo Timnas Indonesia berhasil melangkah sampai babak final Sea Games cabang Sepakbola meskipun di partai puncak “Setan” gawang tidak bisa diusir sehingga Timnas kalah lewat adu tendangan penalti dari Malaysia.
Mungkin tak banyak yang tahu nama Arkand Bodhana Zeshaprajna, dia adalah salah satu ahli di Timnas U-19 yang bertugas menganalisis pemain yang akan diturunkan Indra Sjafri dalam sebuah pertandingan. Namun analisis pria asal Los Angeles ini bukan berdasarkan hitung-hitungan statistik performa pemain atau menilai kebugaran. Arkand bertugas melihat keselarasan para pemain dengan alam semesta. Kemampuan Arkand dalam “menerawang” sudah teruji ketika timnas U-17 menjalani persahabatan menghadapi Arab Saudi pada tahun 2012 di Malaysia. Kala itu Arkand sempat menolak empat pemain andalan Coach Indra untuk masuk starting Line-up, alasannya adalah ada ketidakcockan yang akan merusak struktur Tim, untuk menguji Hipotesa ini Indra kemudian mencadangkan empat pemain tersebut. Hasilnya U-17 mampu unggul atas Arab Saudi dua gol hingga pertandingan menyisakan 10 menit. Seakan ingin membuktikan lilmu Arkand, Indra lalu memasukkan empat pemain yang dilarang itu dan hasilnya Timnas harus kebobolan meski tetap menang 2-1.

Klenik

Absurd (Tak masuk akal)
Pada awal 80-an, seorang ahli etologi asal Inggris, Desmond Morris, mengarang buku unik tentang sepakbola. Dalam buku setebal 320 halaman, Morris mengumpulkan banyak bukti otentik tentang betapa besarnya pengaruh klenik dalam diri individu2 yang terlibat dengan lapangan hijau. Morris membahas semua fenomena yang didapatnya dari sudut pandang antropologi.
Kini, The Soccer Tribe telah berumur 32 tahun dan telah menjadi barang langka yang susah didapatkan. Meski demikian, untuk menengok apa saja isi buku itu, kita tak perlu bersusah payah mencarinya. Kita hanya cukup menyimak pertandingan yang hampir setiap minggu menyambangi kita di layar kaca. Niscaya kita akan menemui tema yang ditulis oleh Morris 32 tahun lalu. Iya, meski zaman telah berubah dan generasi terus berganti, tetapi kepercayaan terhadap klenik tetap terasa masih kuat hingga saat ini. Dari pemain hingga pelatih, dari senior hingga junior, dari dunia hingga Indonesia.
Tengok saja ulah kapten Chelsea, John Terry. Ia punya kebiasaan untuk duduk di bis pada posisi yang sama menjelang dan seusai pertandingan. Ia juga selalu melilit kaus kakinya dengan bebat yang sama sebanyak tiga kali putaran. Frank Lampard pernah memberi pernyataan tentang kelakuan John Terry yang selalu buang air kecil di urinial yang sama di stadion Stamford Bridge, meski uranial yang lainnya terlihat kosong.
Dari pelatih, kita bisa menyebut nama Raymond Domenech. Pelatih perancis ini terkenal bukan karena prestasinya, tetapi lebih kepada kepercayaan dia terhadap klenik. Cermati bagaimana ia -Raymond- selalu memilih pemain berdasarkan astrologi. Ia terbukti selalu jarang memainkan pemain yang berasi bintang Leo. Bagi Raymond individu yang terlahir pada rasi bintang Leo cenderung memiliki sifat tempramental sehingga akan merugikan tim.
Klenik atau hal-hal berbau mistik sudah mewabah hampir keseluruh penjuru dunia, dalam berbagai hal sering disangkut pautkan dengan klenik mulai dari politik, keuangan, jodoh, bisnis, sampai olahraga tak pernah bisa jauh dari yang namanya klenik. Entah itu yang hanya sekedar minta saran dari orang “pinter”,minuman, makanan, hari baik, bahkan hal-hal yang terlihat absurd seperti jalan mana yang harus di lewati dan dihindari itu semua dilakukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Masyarakat indonesia tentu tidak asing dengan hal ini,atau bisa dikatakan sebagai “pecandu” hal-hal yang diluar nalar pikiran manusia, bahkan contoh-contoh dalam tingkatan sederhana sudah sering kita jumpai pada pertandingan antarkampung (Tarkam). Menjelang Agustusan atau ketika banyak dilakukan turnamen, dukun-dukun ramai dikunjungi. Dari mulai menebak hasil pertandingan untuk Taruhan hingga memasang jimat tertentu di tubuh. Demikian pula dengan suporter yang setidaknya sering ditemui menyiram gawang lawan dengan air kencing.
Berdebat mengenai hal diluar teknis seperti halnya metafisika, memang tidak akan ada habisnya. Selain ada ratusan cerita absurd dan menggelitik, perbedaan kepercayaan membuat hal semacam ini menjadi panjang jika diperdebatkan. Dan tak perlu berlama-lama pula berargumen tentang khasiat menyiram air kencing kegawang lawan. Jawaban apapun bisa menjadi sah. Seperti : kiper yang tidak bisa konsentrasi karena bau pesing,bek lawan yang menjadi jijik sehingga enggan untuk turun, atau perginya “setan” penunggu gawang.
Meski terdengar tidak masuk akal, namun ada penjelasan yang yang cukup masuk akal mengenai “kebiasaan-kebiasaan” aneh dalam sepakbola. sebenarnya, rutinitas aneh itu dilakukan pemain untuk membuat para pemainmenjadi nyaman dan percaya diri. Bagi pemain, bertanding adalah sebuah rutinitas hampir setiap pekan. Maka mereka pun melakukan kebiasaan-kebiasaan yang bisa membuat mereka “on fire” seperti kebiasaan mendengarkan musik untuk meningkatkan mood.
Ada cerita tentang seorang pemimpin perang kuno di Tiongkok. Pasukan yang dibawanya terkenal tangguh dalam berperang meski melawan musuh yang lebih banyak jumlahnya sekalipun.Sebelum berangkat perang, sang panglima selalu melakukan ritual meminta izin pada dewa yang disaksikan seluruh pasukannya. Caranya adalah melempar koin untuk mengetahui jawaban dewa. Jika yang keluar adalah gambar kepala naga, maka itu berarti dewa memberi restu mereka berangkat perang. Namun, apabila yang keluar adalah ekor, berarti dewa melarang mereka untuk berangkat.
Berbekal izin yang diberikan dewa, pasukan tersebut terus menerus berangkat perang dengan percaya diri dan gagah berani, karena gambar naga selalu keluar. Pada kemudian hari, barulah diketahui bahwa koin yang dilempar memiliki dua wajah yang sama: kepala naga.
Kisah ini hampir mirip dengan Pele yang mempunyai kebiasaan jarang mengganti seragamnya apabila memenangi sebuah pertandingan. Pernah suatu hari dia memberikan seragamnya untuk seorang fans. Setelah itu penampilannya menjadi tak karuan.Setelah dibantu untuk menemukan kembali seragamnya, performa Pele kembali lagi ke puncak. Namun, konon seragam yang diberikan bukan yang asli dikenakan Pele sebelumnya. Meski demikian penampilan Pele tetap memukau karena merasa memakai atribut pembawa keberuntungan.Pada akhirnya, percaya dengan adanya klenik dalam sepakbola sebenarnya sah-sah saja. Namun jangan sampai hal ini dipakai sebagai jalan pintas mencari kambing hitam.

TimNas Indonesia

Sepakbola Indonesia sendiri mesti diakui penuh dengan hal-hal gaib. Tetapi ini bukan karena adanya sosok jin tomang yang melegenda. Hantu itu bisa jadi terlihat secara kasat mata oleh puluhan ribu orang. Pada akhirnya semua kembali pada hakikatnya, untuk mencapai sebuah kemenangan dalam pertandingan atau untuk mencapai prestasi tinggi dibutuhkan perencanaan yang matang melalui latihan yang tepat dan terus menerus, sangat naif adanya jika ingin memenangkan pertandingan hanya mengandalkan minuman air “keruh” dari dukun tanpa berlatih keras. Seperti kita akan berburu, kita membeli senapan yang canggih dan mahal namun kita tidak pernah belajar menembak atau bahkan kita tidak tahu cara menembak. Hasilnya akan NOL besar........


Penulis :
ABDUL MUTHOLIB, S.Pd / Karang Taruna



Kategori

Bagikan :

comments powered by Disqus